Arsip Artikel 2017

Selamat Tinggal Ahok, Selamat Jalan

Oleh : Hersubeno Arief

Pilkada DKI putaran kedua tak terasa tinggal menghitung hari. Jika mengacu semua jajak pendapat, mulai dari survei yang independen dan kredibel, survei dari lembaga yang menjadi konsultan dan pendukung Ahok, sampai survei maju tak gentar membela yang bayar, memastikan DKI Jakarta akan punya gubernur baru.

Jadi kalau kita berpegang dengan survei tersebut, hari ini kita sudah boleh mengucapkan SELAMAT TINGGAL AHOK! Toh ketika dalam debat terakhir, Ahok juga seperti tahu diri dan telah berpamitan.

Namanya juga jajak pendapat, bisa saja salah. Namun kalau prosedur pelaksanaan survei dilakukan dengan benar dan jujur, sangat jarang terjadi, kesalahan prediksi. Metode statistik yang digunakan dengan prosedur yang benar, telah membuktikan dan membantu lembaga survei di seluruh dunia, mampu dengan tepat memprediksi sebuah kontestasi dalam Pilpres maupun Pilkada.

Bukan berarti lembaga yang kredibel tidak pernah salah dalam menarik kesimpulan dalam sebuah jajak pendapat. Peristiwa terbaru dalam Pilpres di AS ketika Hillary Clinton kalah dari Trump adalah sebuah anomali. Lebih tepatnya mungkin dapat disebut sebagai sebuah kecelakaan yang jadi malapetaka bagi dunia survei di AS. Sebab boleh dibilang semua, lembaga survei memprediksi Hillary menang. Hanya satu dari 20 lembaga survei yang memprediksi sebaliknya.

Penyebabnya seperti banyak disebutkan, adalah adanya sikap pemilih kulit putih di pedesaan, yang menyembunyikan pilihannya. Mereka memilih Trump sesuai aspirasi kulit putih yang mengagungkan supremasinya, atau dikenal dengan istilah White, Anglo Saxonand Protestan (WASP). Namun ketika disurvei, mereka tidak mau menjawab. Alasannya takut di-bully. Suasana di Pilpres AS saat itu memang membuat banyak pendukung Trump yang tidak berani tampil, karena tekanan dari pendukung Hillary sangat kuat. Hal itu menyebabkan hasil jajak pendapat tidak valid, karena response rate atau responden yang bersedia menjawab survei, rendah.

Bagaimana dengan Jakarta? Mengutip hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Median. Situasinya berbeda jauh dengan Pilpres di AS. Kendati digoncang unjukrasa besar-besaran melalui serial Aksi Bela Islam (ABI), namun para pendukung Ahok sangat militan dan solid. Dalam beberapa kali jajak pendapat yang dilakukan Median menunjukkan level kepercayaan diri para pemilih Ahok, terutama di kalangan komunitas etnis Cina dan non muslim sangat kuat.

Sikap ini berkorelasi kuat pada tingkat partisipasi mereka yang sangat tinggi dalam Pilkada. Sebelum Pilkada berlangsung ada mobilisasi mereka yang berada di luar kota, bahkan di luar negeri, kembali ke Jakarta untuk menggunakan hak pilihnya.Coba perhatikan kesibukan di bandara beberapa hari jelang Pilkada. Arus balik ke Jakarta sangat tinggi.

Temuan sebaliknya terjadi pada komunitas muslim terutama yang berada pada level ekonomi rendah dan berada di pinggiran. Level kepercayaan diri mereka rendah dan masih sangat mungkin terpengaruh.

Apa saja yang bisa mempengaruhi perobahan pilihan dalam hari-hari terakhir jelang Pilkada? Setidaknya ada lima faktor, yakni isu negatif, politik uang, intimidasi, debat kandidat dan kecurangan.

Isu negatif. Kampanye hitam (black campaign) dan kampanye negatif (negative campaign), masuk dalam kriteria ini. Keduanya harus dibedakan. Kampanye hitam adalah pembunuhan karakter, yang tidak berdasar fakta. Sementara kampanye negatif lebih pada menyebarkan dan membesar-besarkan fakta buruk yang ada pada kandidat.

Dari temuan sejumlah lembaga survei, isu negatif menempati urutan pertama. Jauh sebelum Pilkada berlangsung, banyak lembaga survei yang menyebutkan bahwa siapapun melawan Ahok, pasti kalah. Tingkat keterpilihannya di atas 50 persen. Namun ketika digempur dengan isu negatif penistaan agama, suara Ahok melorot jauh. Hanya beberapa hari sebelum minggu tenang, Ahok kembali diguncang isu negatif soal iklan kampanyenya yang lagi-lagi dianggap menghina umat Islam. Untungnya iklan tersebut segera ditarik dari peredaran.

Masih ingat dengan nasib pasangan Agus-Silvy yang sebelumnya selalui merajai survei. Pada H-1 mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang pernah menjadi narapidana kasus pembunuhan menyerang SBY dengan tuduhan kriminalisasi. Serangan ini ibarat rudal mematikan yang menjadi senjata pamungkas untuk menghabisi elektabilitas Agus-Silvy.

Dalam beberapa hari ini pasangan Anies-Sandi diserang dengan selebaran soal adanya dukungan kaum Syiah kepada mereka. Surat dukungan itu disebar secara massif ke masyarakat dan berbagai lembaga penyiaran dan organisasi kemasyarakat Islam. Tujuannya adu domba, karena mereka tahu, bahwa mayoritas muslim di Indonesia, menolak dan membenci Syiah. Faktanya sebenarnya para aktivis Syiah Indonesia banyak yang mendukung Ahok-Djarot.

Belum lagi soal isu pemberlakuan syariat Islam. Yang terbaru adalah adanya penyebaran bulletin yang seolah dari kelompok Hizbut Tahrir yang mendukung Anis-Sandi karena akan memberlakukan syariat Islam bila terpilih. Ini sebenarnya bentuk baru dari penyebaran spanduk Syariat Islam sebelumnya.

Politik uang, atau lebih populer disebut dengan money politics menempati urutan kedua dalam mempengaruhi peralihan suara. Ini harus SANGAT DIWASPADAI. Di Jakarta modus politik uang jauh lebih canggih dibandingkan daerah lain. Mereka tidak lagi membagikan uang secara door to door karena rawan tertangkap, tapi modusnya menggunakan transfer melalui rekening. Bagi mereka yang belum punya rekening diminta segera membuat rekening.

Di Jakarta mayoritas warga memiliki rekening bank. Kalau tidak punya, untuk membuatnya relatif mudah. Cara ini relatif sulit dibuktikan dan tidak akan dideteksi oleh lembaga semacam PPATK, karena jumlahnya recehan.

Kuasa hukum pasangan Anies-Sandi sedang mempersoalkan adanya transfer uang kepada sejumlah lansia di Jakarta sebesar Rp 600 ribu/orang melalui Bank DKI Jakarta. Pembagian yang dilakukan jelang hari pencoblosan ini ditengarai sebagai politik uang dengan menggunakan APBD.

Debat kandidat. Pada putaran kedua relatif tidak terlalu berpengaruh lagi, karena kemampuan dan kualitas kandidat cukup sepadan. Agak berbeda dengan putaran pertama, ketika Agus masih berlaga. Kekurang matangan Agus menjadi titik lemah yang terbuka ketika berlangsung debat. Seperti terekam dalam survei, soal ini sangat mempengaruhi penurunan suara Agus-Silvy.

Intimidasi. Temuan survei menyebutkan bahwa faktor ini tidak terlalu berpengaruh. Faktor masyarakat Jakarta yang lebih terdidik, terbuka terhadap informasi, membuat intimidasi tidak terlalu berpengaruh. Di daerah pedalaman dan wilayah yang pernah mengalami konflik seperti Aceh, intimidasi bisa sangat mempengaruhi pilihan.

Kecurangan. Soal ini benar-benar harus SANGAT-SANGAT DIWASPADAI. Penambahan suara pada putaran kedua dan dibolehkannya seorang pemilih dengan hanya menggunakan Surat Keterangan (Suket) walau tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) menjadi celah penggelembungan suara. Dengan pertarungan head to head yang sangat ketat, keberhasilan melakukan kecurangan melakukan mobilisasi masa yang tidak terdaftar dalam DPT akan sangat menentukan.

Kombinasi dari berbagai faktor tadi, bila bisa dimaksimalkan oleh Ahok dan para pendukungnya, maka mereka akan bisa membalikkan prediksi dari jajak pendapat. Sebaliknya bila tim Anies-Sandi bisa mengantisipasinya, mereka boleh mengucapkan SELAMAT DATANG GUBERNUR BARU! SELAMAT TINGGAL AHOK! SELAMAT JALAN…ZAI JIAN…..XIE XIE (END)

Penulis adalah konsultan Media dan Politik

Komentar
Facebook Comments
Tags
Selengkapnya

Artikel Terkait

Translate »
Close