Artikel

Ahok Cawapres Di Kantong Jokowi?

Story Highlights

  • Ahok memenuhi ciri-ciri yang disampaikan Sekjen Nasdem “menonjol, dan tentu saja mengejutkan, serta pasti menggemparkan Indonesia! Dari tiga kriteria Basarah semuanya terpenuhi. Dari sisi ideologi Jokowi dan Ahok sama-sama nasionalis. Ahok juga punya pendukung fanatik yang bisa meningkatkan elektabilitas Jokowi.

Oleh : Hersubeno Arief

Siapa cawapres yang akan diusung oleh Jokowi? Isu ini menjadi spekulasi paling panas dalam beberapa hari terakhir, bersaing dengan prediksi tim mana  yang akan menjadi juara Piala Dunia 2018.

Ketua Umum PDIP Megawati setelah bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Batu Tulis, Bogor mengatakan siapa yang akan menjadi cawapres Jokowi segera diumumkan. “Pengumuman dilakukan pada momentum tepat, dan dalam cuaca yang cerah, secerah ketika matahari terbit dari timur. Jadi tunggu saja dan sabar,” ujar Megawati Soekarnoputri dalam siaran persnya, Senin (9/7/2018).

Dilhat dari bahasanya yang cair, Megawati sedang happy, sumringah. Hatinya sedang berbunga-bunga. Hal itu mengindikasikan telah ada sebuah kesepakatan yang menggembirakan bagi kubu Megawati.

Maklumlah pasca Pilkada Serentak 2018 posisi tawar PDIP terhadap Jokowi melemah. Kandidat yang diusungnya banyak yang kalah. Sebaliknya kandidat yang didukung Jokowi memenangkan sejumlah provinsi penting. Ada spekulasi Jokowi akan meninggalkan Megawati.

Siapa figur yang membuat Megawati berwajah cerah, secerah matahari terbit itu? Ketua Umum PKB Muhaimin tetap yakin, bahwa sosok itu adalah dirinya. Namun PDIP sudah memastikan sosok itu bukan Muhaimin. Hanura juga meminta Muhaimin tidak terlalu berharap. Sementara Sekjen Nasdem Johnny G Plate memberi ciri-ciri yang lebih spesifik.

Pertama, diterima oleh semua partai pendukung Jokowi. Kedua, akan menggemparkan Indonesia! Tokoh ini sangat terkemuka, menonjol, dan mengejutkan. Dalam bahasa Plate “Prominent, dan surprise.”

Bagi Jokowi memang tidak mudah untuk menentukan siapa yang akan diusung menjadi pasangannya. Seperti dikatakan oleh Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah setidaknya ada tiga syarat yang harus bisa dipenuhi.

Kriteria pertama ialah memiliki kesepahaman dalam pemikiran. Terutama masalah ideologi. Kedua mampu meningkatkan elektabilitas Jokowi. Ketiga, nantinya cawapres harus punya chemistry untuk bekerja sama dengan Jokowi. Bayangan idealnya adalah dwitunggal seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Di luar itu yang tak boleh ditawar-tawar tentu saja seperti kata Sekjen Nasdem, harus bisa diterima partai koalisi. Sejauh ini Jokowi sudah diusung PDIP, Golkar, PPP, Nasdem, dan Hanura. PKB masih jual mahal. Menunggu apakah Jokowi mau menjadikan Muhaimin sebagai cawapres.

Kelima partai tersebut —diluar Nasdem, dan Hanura —sangat berharap kadernya diusung sebagai cawapres. Golkar menginginkan Ketua Umumnya Airlangga Hartarto, PPP menginginkan Romahurmuzy, sementara PDIP selama ini mengelus-elus dua orang untuk menjadi cawapres, yakni Kepala BIN Budi Gunawan, dan Puan Maharani.

Partai-partai pendukung ini tentu sangat memahami posisi wapres sangat penting dan strategis, mengingat Jokowi sudah memasuki periode kedua. Siapapun yang menjadi cawapres, akan menjadi putra mahkota. Pilihannya kalau bukan kader mereka, maka harus dicari figur lain yang tidak akan membahayakan peluang tokoh mereka pada Pilpres 2024. Dengan kata lain, cawapres tersebut haruslah tokoh kompromi.

Khusus bagi Megawati, situasinya menjadi krusial bagi kelanjutan dinasti politiknya. Bila bukan Budi Gunawan, atau Puan Maharani, hampir dipastikan Megawati tidak akan mendukung calon yang berpeluang menjadi lawan Puan pada Pilpres 2024.

Lantas siapa calon yang memenuhi tiga kriteria syarat seperti dikemukakan oleh Basarah? Selentingan yang berkembang, figur itu adalah mantan Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Spekulasi tersebut menguat bersamaan dengan beredarnya kabar di WAG sejumlah wartawan, bahwa Ahok sudah bebas.

Ahok memenuhi ciri-ciri yang disampaikan Sekjen Nasdem “menonjol, dan tentu saja mengejutkan, serta pasti menggemparkan Indonesia! Dari tiga kriteria Basarah semuanya terpenuhi. Dari sisi ideologi Jokowi dan Ahok sama-sama nasionalis. Ahok juga punya pendukung fanatik yang bisa meningkatkan elektabilitas Jokowi. Sementara dari sisi _chemistry_ Jokowi dan Ahok tak perlu diragukan lagi. Mereka adalah pasangan ideal ketika menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI.

Menjadikan Ahok sebagai cawapres Jokowi, sesungguhnya adalah skenario lama. Andai saja Ahok tak kesandung kasus penistaan agama dan melenggang mulus menjadi Gubernur DKI, hampir dapat dipastikan dia akan menjadi cawapres ideal Jokowi.

Bagi partai-partai pendukung, pilihan atas figur Ahok ini juga merupakan jalan tengah yang aman. Ahok bukan figur asing dan bisa mereka terima. Mereka juga menjadi partai pendukung Ahok ketika berlangsung Pilkada DKI 2017. Sementara bagi Megawati, Ahok juga merupakan pilihan yang aman. Sebagai non muslim, tidak memungkinkan Ahok menjadi capres. Dengan begitu posisi Puan pada Pilpres 2024 tetap aman.

Status hukum Ahok clear?

Bagaimana dengan status hukum Ahok? Apakah secara perdata hak politik Ahok dicabut atau gugur, karena didakwa dengan pasal yang ancaman hukumannya lima tahun. Soal ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan.

Ahok didakwa dengan dakwaan alternatif, yakni Pasal 156 KUHP yang ancaman hukumannya empat tahun, dan Pasal 156 a KUHP yang ancaman hukumannya maksimal lima tahun. Hakim memvonis Ahok dua tahun karena terbukti melanggar Pasal 156 a KUHP.

Pada tanggal 9 Mei 2017 Ahok divonis hakim dua tahun penjara dan langsung masuk penjara. Pada Natal tahun lalu dia mendapat remisi 15 hari. Pada bulan Agustus ini para pengacaranya berharap Ahok akan mendapat remisi dua bulan.

Dengan hitung-hitungan semacam itu, pada Mei lalu Ahok sudah bisa menjalani proses asimilasi. Sesuai Permenkumham No 3/Tahun 2018 seorang narapidana bisa menjalani asimilasi setelah menjalani hukuman 1/2 masa pidana. Asimilasi adalah proses pembauran seorang pidana dengan masyarakat. Mereka bisa menjalani pendidikan, pelatihan ketrampilan, atau kerja sosial. Artinya Ahok bisa keluar tahanan.

Dengan asumsi Ahok akan mendapat remisi dua bulan, bersamaan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI, maka pada bulan Oktober 2018 Ahok Sudah bisa menjalani bebas bersyarat. Dia bisa melenggang keluar Mako Brimob sebagai orang bebas.

Sesuai ketentuan, seorang narapidana bisa bebas bersyarat setelah menjalani dua pertiga hukuman, dengan ketentuan paling sedikit telah menjalani hukuman selama sembilan bulan.

Jika status hukum Ahok sudah clear, bagaimana kalkulasi politiknya?

Sejauh ini banyak pengamat yang menyebutkan Jokowi harus didampingi oleh figur yang bisa menutup kelemahannya, yakni tokoh Islam. Kelompok penentang utamanya berasal dari kalangan Islam perkotaan. Dengan menggandeng Ahok apakah bukan merupakan tindakan bunuh diri?

Dari berbagai survei menunjukkan Jokowi masih merupakan figur terkuat. Ada potensi Jokowi bisa dikalahkan bila oposisi bersatu. Masalahnya sampai saat ini partai-partai yang digadang-gadang akan menjadi koalisi oposisi, masih belum sepakat menunjuk siapa yang akan menjadi kandidat mereka.

Kelompok keumatan yang selama ini diharapkan bersatu, juga mulai rontok satu persatu. Ketua MUI KH Ma’ruf Amin yang selama ini menjadi sesepuh GNPF sudah sejak lama merapat ke Jokowi. Dia juga salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Tuan Guru Bajang yang menjadi salah satu capres rekomendasi Persaudaraan Alumni 212, sudah mengibarkan bendera putih, dan menjadi barisan pendukung Jokowi. Dia belakangan juga rajin melakukan roadshow mensosialisasikan pilihan politiknya ke sejumlah tokoh dan media.

Bukan tidak mungkin dengan kekuatan politik, hukum, kekuasaan,  dan sumber daya yang dimiliki, Jokowi bisa menaklukkan satu persatu tokoh keumatan yang potensial menjadi lawan politiknya. Banyak cara yang bisa dilakukannya.

Kalangan nahdliyin yang selama ini menjadi pendukung Jokowi, tampaknya juga tidak akan keberatan bila Ahok yang diusung. Ketua GP Ansor Cholil Yaqut Qoumas pernah memberi julukan Ahok sebagai Sunan Kali Jodo.

Dengan kalkulasi semacam itu sangat mungkin Jokowi penuh percaya diri menghadapi Pilpres 2019, termasuk bila harus menggandeng Ahok.
Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik.


Lisensi

Kecuali disebut secara khusus, semua karya di situs ini menggunakan
Atribusi-Berbagi Serupa Creative Commons.Diizinkan untuk mengutip atau menyebarkan sebagian atau seluruh isi situs ini, selama menyertakan tautan sumber (URL) di manapun tempatnya, baik dalam bentuk tautan hidup maupun tautan mati.
Facebook Comments
Tags
Show More

Related Articles

Check Also

Close
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker