Artikel
Trending

Jusuf Kalla Merasa Sudah Cukup Tua. Percaya?

Story Highlights

  • Spekulasi bahwa JK akan kembali mendampingi Jokowi sudah cukup lama beredar. Sejumlah media di dalam negeri sudah mengendus itu. Orang di sekitar JK, maupun Megawati juga sudah mengkonfirmasinya.

 

Oleh : Hersubeno Arief

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memberi isyarat tidak akan maju lagi pada Pilpres 2019 mendampingi Jokowi. “ Saya sudah cukup tua, biarlah yang muda-muda saja,” ujarnya.

Spekulasi bahwa JK akan kembali mendampingi Jokowi sudah cukup lama beredar. Sejumlah media di dalam negeri sudah mengendus itu. Orang di sekitar JK, maupun Megawati juga sudah mengkonfirmasinya.

Isunya pekan ini menjadi ramai ketika wartawan senior John McBeth mengungkapkannya lewat sebuah tulisan di Asia Time. Harian Kompas yang biasa bermain aman, mengutip isu tersebut. Jadilah kabar itu menjadi isu politik yang lumayan panas.

JK kembali dipertimbangkan kembali oleh Jokowi melihat dinamika politik pasca Pilkada DKI Jakarta. Jokowi dan timnya nampaknya sangat khawatir dengan perlawanan kubu kelompok Islam perkotaan yang sikapnya kian hari, kian mengeras. Perlu dicari figur pendamping Jokowi yang bisa masuk dan diterima di kalangan umat.

Setelah pilih sana, pilih sini. Timbang sana, timbang sini. Keputusannya “balik kucing” lagi ke JK.

Setidaknya ada beberapa pertimbangan mengapa JK menjadi opsi yang paling masuk akal dan aman bagi Jokowi.

Pertama, latar belakang ketokohan JK di kalangan umat Islam. Dia sudah menjadi aktivis sejak masih pelajar. Sebagai mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan latar belakangnya sebagai anggota nahdliyin (NU), JK punya background dan akar yang kuat di kalangan Islam modernis, maupun tradisional. JK juga sekarang menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang membawahi 800.000 masjid di seluruh Indonesia.

Gaya politiknya yang luwes membuat JK dengan mudah bergaul dan diterima di berbagai kalangan komunitas muslim. Kepiawaian kembali dibuktikan ketika berhasil merangkul Ustad fenomenal Abdul Somad.

Dengan cover DMI, JK bisa mempertemukan Abdul Somad dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan dan Waka Polri Komjen (Pol) Syafruddin. Keduanya adalah unsur pimpinan di DMI.

Keberhasilan mendekati ustadz berjuta umat itu menunjukkan kelas JK sebagai politisi kawakan.
Somad adalah ikon baru umat, setelah Habib Rizieq Shihab terpaksa menyingkir sementara ke Arah Saudi. Belakangan berbagai dakwah Somad sempat dihambat. Dia dianggap bisa mengkonsolidasi umat dan menjadi ancaman baru bagi pemerintahan Jokowi.

Di Bali Somad dipersekusi dan dipaksa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sumpah setia terhadap NKRI. Somad juga dicegah dan dideportasi ketika akan berceramah di Hongkong.

Adanya campur tangan kekuasaan di balik berbagai aksi menghambat kegiatan dakwah ustad asal Riau ini sangat terlihat ketika ceramahnya di kantor PT PLN Persero Jakarta dibatalkan. Padahal semua persiapan dan undangan sudah tiba.

Kedua, sebagai politisi JK punya akar yang kuat di Golkar. Dia pernah menjadi ketua umum. Pengaruhnya terhadap Golkar menguat kembali setelah Setya Novanto berhasil disingkirkan. Tak diragukan lagi komposisi kepengurusan Golkar di bawah Airlangga Hartatarto adalah kompromi antara Jokowi dan JK.

Golkar saat ini menjadi kendaraan politik yang dipersiapkan untuk mengusung Jokowi kembali, bilamana tidak ada kata sepakat dengan PDIP.

Ketiga, JK bagi Jokowi akan bisa memperluas basis pemilih di luar Jawa, terutama Indonesia bagian Timur. Kendati latar belakang Islamnya relatif kental, namun dia bisa diterima di kalangan komunitas agama lain.

Keempat, kedekatan dengan Mega. Soal ini juga menjelaskan mengapa bukan hanya orang di seputar Jokowi, tapi juga orang di seputar Mega yang ingin mempertahankan JK. Masuknya Budi Gunawan dalam kepengurusan DMI adalah indikasi ada kedekatan dan kesepahaman politik antara JK dengan Megawati

Kelima, JK secara politik relatif aman bagi Jokowi dibandingkan figur cawapres baru yang belum dikenal Jokowi. Faktor ini tampaknya menjadi pertimbangan utama.

Cara kerja politik JK dan timnya, selama hampir empat tahun berpartner, sudah bisa diukur dan diantisipasi oleh Jokowi dan timnya.

Pendek kata, JK sudah tidak lagi berbahaya bagi keseimbangan politik Jokowi. Faktor usia dan kekuatan politik JK yang mulai melemah menjadi poin yang nampaknya sangat dipertimbangkan oleh Jokowi dan timnya untuk tetap mempertahankan JK.

Sangat mungkin berubah

Dengan berbagai kalkukasi politik tadi, pernyataan JK bahwa dirinya sudah tua, hanya semacam basa-basi politik. Benar bahwa usia JK sudah memasuki usia senja 75 tahun. JK lahir di Watampone, Sulsel 15 Mei 1942. Namun itu bukan alasan untuk segera mengundurkan diri dari kancah politik.

Tarik menarik kepentingan politik dan bisnis, membuat JK sangat mungkin tidak segera mengundurkan diri dan menyerah pada usia.

Publik tentu tidak lupa menjelang Pilpres 2014 JK bereaksi keras atas banyaknya suara yang mendukung Jokowi menjadi presiden. JK menyatakan Indonesia akan hancur jika Jokowi dipilih sebagai presiden. Kalla beralasan untuk menjadi presiden tidak cukup bermodal popularitas seperti Jokowi. Faktanya kemudian JK malah bersedia menjadi pendamping Jokowi.

Kalau untuk alasan yang sangat prinsip saja JK bisa berubah, apalagi cuma urusan usia. Pernyataannya tidak akan mencalonkan diri dengan alasan usia, pantas diragukan.

Banyak joke tentang janji seorang politisi. Politisi adalah orang yang paling berani berjanji, sekaligus paling berani mengingkari.

Soal usia sebagai alasan untuk tidak lagi maju sebagai presiden juga pernah dikemukakan oleh mantan Presiden Soeharto.

Pada tahun 1997 sejumlah orang dekat Soeharto membujuknya untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden.
Saat itu Soeharto menolak dan menyatakan sudah “tua, ompong dan peot,”. Media menyingkatnya menjadi TOP.

Para pembisik Soeharto, seperti diceritakan mantan Menkeu Fuad Bawazier membujuknya dengan kata-kata “Bapak jangan tinggal glanggang colong playu,” alias melarikan diri dari tanggung jawab.

Usia Soeharto saat itu sudah 76 tahun, satu tahun lebih tua dari usia JK saat ini. Ternyata Soeharto kembali mencalonkan diri.

Seperti sudah diduga MPR/DPR pada bulan Maret 1998 secara aklamasi memilihnya sebagai Presiden RI untuk kelima kalinya.

Hanya berselang dua bulan setelah terpilih Indonesia mengalami krisis ekonomi. Bulan Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri dan digantikan oleh BJ Habibie. End

14/2/18

 


Kebijakan Isi

Anda diperbolehkan untuk menyalin sebagian atau keseluruhan artikel dalam blog ini selama menyertakan tautan sumber (URL) di manapun tempatnya, baik dalam bentuk tautan hidup maupun tautan mati.

Facebook Comments
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker