Artikel

Operasi Pembunuhan Karakter Sang Jenderal

Prabowo Undercover III

Story Highlights

  • Penjelasan yang paling masuk akal, para pendukung Jokowi menerapkan strategi ganda dalam operasi intelijen politiknya terhadap Prabowo. “Rangkul dan Pukul.”

Oleh: Hersubeno Arief

Pendaftaran capres-cawapres masih empat bulan lagi. Namun pertempurannya — terutama operasi intilejen — sudah berlangsung keras di belakang layar. Yang menjadi sasaran utama adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Beberapa fakta yang mencuat ke media beberapa hari terakhir, menunjukkan ada tanda-tanda mantan Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD sedang menjadi sasaran pembunuhan karakter.

Bermula dari pernyataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romy) bahwa Prabowo ingin dan bersedia menjadi cawapres Jokowi, kini muncul bocoran baru. Prabowo bersedia menjadi cawapres Jokowi, namun sebagai syaratnya dia minta posisi militer dan tujuh (7) kementerian berada di bawah kendalinya.

Informasi itu diungkap oleh wartawan bule senior John McBeth dalam sebuah artikel di Asian Times (atimes.co) berjudul “Indonesia moving toward a one-horse race,” Minggu (15/4).

Mengaku mendapat bocoran dari seseorang yang mengetahui detil pertemuan Luhut B Panjaitan dengan Prabowo di sebuah restoran di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (6/4), wartawan berusia 74 tahun itu menulis bahwa pertemuan antara Luhut-Prabowo terjadi sebanyak tiga kali.

Dalam dua pertemuan sebelumnya, Luhut mendorong Prabowo untuk maju sebagai penantang Jokowi. Dalam kalkulasi Luhut, akan lebih menguntungkan bagi Jokowi bila berhadapan dengan Prabowo dibandingkan dengan calon lain yang belum diketahui.

Sumber itu menyebut, kekuatan politik Prabowo sudah bisa diukur. Begitu pula kekuatan finansialnya, sudah terkuras dalam dua pilpres sebelumnya (2009,2014). Prabowo sendiri memang sering mengeluhkan soal itu kepada beberapa orang. Jadi Prabowo adalah calon paling “ideal” bagi Jokowi. Dalam bahasa Inggris dikenal sebuah idiom “known devil is better than unknown angel.”

Dalam pertemuan terakhir di Grand Hyatt Luhut mengubah strateginya. Dia menawarkan posisi cawapres kepada Prabowo. Namun sontak Luhut kehilangan nafsu makannya mendengar jawaban Prabowo. Dia bersedia menjadi cawapres Jokowi dengan syarat militer berada di bawah kendalinya, dan Gerindra mendapat jatah tujuh (7) menteri.

Tidak dijelaskan apa yang saja kementerian yang diminta, dan apa yang dimaksud dengan militer di bawah kendali Prabowo. Apakah dia menjadi cawapres dan merangkap dengan memegang kendali Kementerian Pertahanan yang secara UU membawahi TNI.

Makan siang dua kolega jenderal baret merah itu berakhir hampa. Yang kita ketahui Luhut kemudian menjelaskan kepada media bahwa dia mendorong Prabowo maju, dan kemudian diralatnya. Dia mengaku hanya mempersilakan bila Prabowo ingin maju. Lima hari berselang, Rabu (11/4) setelah menghindar dalam beberapa kesempatan, Prabowo akhirnya menerima mandat dari Gerindra untuk maju pada Pilpres 2019.

Tidak diketahui seberapa sahih info yang diterima McBeth. Namun mengapa McBeth yang dipilih sebagai saluran untuk “membocorkan” info tersebut juga menarik untuk dicermati.

McBeth sebelumnya dikenal sebagai pribadi yang mengagumi Prabowo. Pada Pilpres 2014, McBeth menulis artikelnya berjudul “The Prabowo Subianto I know“. Dalam artikel lain berjudul “All eyes on Indonesia’s identity card scam,” McBeth memuji Prabowo sebagai sosok yang bersih.

Februari lalu McBeth menulis artikel yang mempertanyakan kredibilitas Presiden Jokowi melalui sebuah artikel berjudul ”Widodo’s smoke and mirrors hide hard truths. Tulisan yang menuduh Jokowi seperti seorang tukang sulap yang melakukan tipuan pertunjukan menggunakan “asap dan kaca” itu membuat para pendukung Jokowi blingsatan dan kabarnya mencoba mencari jalan melobi McBeth.

Sebagai wartawan senior reputasi McBeth memang luar biasa. Dengan aksesnya yang luas di Indonesia dan dunia internasional, tulisannya bisa mempengaruhi dan setidaknya mencerminkan konstelasi adanya tarik menarik kepentingan politik global dalam pilpres di Indonesia. Sudah bukan rahasia, negara-negara besar seperti AS dan tentu saja Cina, sangat berkepentingan siapa yang terpilih menjadi presiden di Indonesia.

Bila sekarang McBeth menulis sebuah konfirmasi adanya “intensi” Prabowo untuk menjadi cawapres Jokowi, tentu ada maksud dan pesan tertentu dari si “pembocor.”

Pertaruhan kredibilitas Prabowo

Bocoran dari Romy dan tulisan McBeth menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Prabowo dalam upayanya melakukan come back pada Pilpres 2019. Kendati ada perbedaan detil, namun baik Romy maupun McBeth sama-sama mengkonfirmasi bahwa Prabowo memang pernah ingin dan berniat menjadi cawapres Jokowi.

Bagi kelompok penentang Jokowi, alias Gerakan Asal Bukan Jokowi (GABJ), sikap Prabowo ini bisa dianggap sebagai pengkhianatan. Sebab mereka menggadang-gadang Gerindra-PKS menjadi kendaraan politik untuk menantang dan mengalahkan Jokowi.

Mereka menilai pilpres kali ini adalah momentum paling tepat untuk mengalahkan Jokowi. Berbagai survei yang menunjukkan pemilih Indonesia lebih banyak yang menginginkan presiden baru, dan antusiasme publik menyambut gerakan #2019GantiPresden, semakin menambah keyakinan itu. Tinggal mencari figur yang tepat sebagai capres-cawapres.

Bila benar ada lobi-lobi seperti yang disebutkan oleh Romy dan McBeth, maka keinginan untuk mengalahkan Jokowi, hanya menjadi sebuah mimpi.

Mengapa para pendukung Jokowi membocorkan berbagai pertemuan tersebut, padahal seperti kata mereka, Prabowo sudah menyatakan “bersedia” maju pilpres menantang Jokowi seperti “skenario” yang diinginkan Luhut?

Penjelasan yang paling masuk akal, para pendukung Jokowi menerapkan strategi ganda dalam operasi intelijen politiknya terhadap Prabowo. “Rangkul dan Pukul.”

Di satu sisi coba merangkul untuk menciptakan sebuah skenario calon tunggal. Namun ketika tidak berhasil, mereka melancarkan jurus pukul, untuk menutup peluang rebound elektabilitas Prabowo. Sebab melihat sentimen publik, bisa saja ketika mereka dihadapkan pada pilihan : Jokowi atau Prabowo? para pendukung GABJ akan ramai-ramai mendukung Prabowo. Apalagi bila Prabowo mendapat pasangan cawapres yang tepat.

Di kalangan khasanah pemikiran Islam, termasuk fikih politik kontemporer, dikenal kaidah manfaat-mudharat. Ketika dihadapkan pada pilihan yang sama-sama “buruk,” maka akan dipilih yang paling sedikit mudharatnya. Bagaimanapun Prabowo dipersepsi lebih dekat dengan umat, dibanding Jokowi.

Dengan munculnya isu Prabowo sangat ngebet menjadi cawapres Jokowi seperti digambarkan Romy, diharapkan kepercayaan umat kepada Prabowo runtuh. Namun skenario ini bila salah mengelola, bisa menjadi bumerang.

Sebagai dampak operasi pembunuhan karakter tersebut, elektabilitas Prabowo yang rendah, akan semakin rendah. Dia akan kesulitan meyakinkan partner koalisi, kesulitan mencari figur yang bersedia menjadi cawapres, dan yang paling parah, tak ada bandar yang bersedia menjadi investor politik.

Dalam kondisi seperti ini, opsi yang dipilih Prabowo pasti bukan bergabung dengan Jokowi untuk menyelamatkan diri. Besar kemungkinan Prabowo akan berpaling ke figur alternatif seperti Gatot Nurmantyo atau Anies Baswedan.

Bukankah itu skenario yang paling ditakuti Jokowi dan para pendukungnya? End

17/4/18


Lisensi

Kecuali disebut secara khusus, semua karya di situs ini menggunakan
Atribusi-Berbagi Serupa Creative Commons.Diizinkan untuk mengutip atau menyebarkan sebagian atau seluruh isi situs ini, selama menyertakan tautan sumber (URL) di manapun tempatnya, baik dalam bentuk tautan hidup maupun tautan mati.
Komentar
Facebook Comments
Tags
Selengkapnya

Artikel Terkait

Translate »
Close